Nov
28

Nelayan Karawang Sulit Jual Ikan

Dari sebanyak 11 Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada di Kabupaten Karawang, Hanya ada tiga TPI yang aktif. Sementara sisanya sudah tidak aktif banhkan bangunannya pun kondisinya memprihatinkan.

Tiga TPI tersebut antara lain, TPI Fajar Samudera di Cilebar, TPI Sungai Buntu di Pedes, dan TPI Pasir Putih di Cilamaya. “Sudah susah mendapatkan bahan bakar untuk perahu, cuaca sering tidak bersahabat, ditambah hasil tangkapan susah dijual,” ucap Koswara (40), nelayan Cilebar, Kamis (27/10).

Koswara mengatakan banyaknya TPI yang mati suri membuat nelayan menjual hasil tangkapan langsung ke tengkulak tanpa adanya proteksi harga. Bahkan Setiap hari harga ikan bias berubah.

“Bagi yang modalnya adri hasil pinjaman ke tengkulak lebih kasihan karena mereka menjual hasil tangkapan dengan harga murah ke tengkulak demi mengembalikan pinjaman. Harga seringkali dibawah harga pasaran,” tuturnya.

Misalnya saja, kata Koswara, saat tangkapan udang sedang banyak. Maka harga udang di tengkulak pada saat itu bias anjlok. Begitu pula jika permintaan tengkulak akan udang tinggi namun, tangkapan tidak ada pasti akan diharga mahal.

“Jika menjual ikan secara liar seperti ini kan tidak ada perlungan harga terhadap nelayan dan standarisasi harga. Kami seringnya merugi jika harga ikan yang dipatok tengkulak anjlok. Sementara biaya operasional saja membutuhkan sedikinya 20 liter solar, belum biaya makan dan lain-lainnya,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Ijang (47), nelayan Cemarajaya. Ia mengatakan di lima Kecamatan pesisir Pakis Jaya, diantaranya Kecamatan Pedes, Cibuaya, dan Tirtajaya, hanya ada satu TPI, yaitu TPI Sungai Buntu.

“Kami sudah beberapa kali dengan beberapa kelompok nelayan menyampaikan agar dibangun TPI per Kecamatan yang ada di pesisir pantai Karawang agar kami bisa lebih mudah menjual hasil tangkapan dan mempunyai nilai tawar,” katanya.

Tidak hanya itu, kata Ijang, untuk menghilangkan kebiasan nelayan meminjam modal ke tengkulak, seharusnya Pemkab Karawang bisa memfasilitasi pendirian koperasi untuk para nelayan sehingga misalnya nelayan minim modal bisa meminjam di koperasi.

“Kalau meminjam di koperasi kan lebih ringan. Hasil tangkapan yang kami jual ke TPI bisa bersaing dengan harga pasar sehingga keuntungan kami bisa lebih besar,” ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan, Dinas Perikanan, Kelautan, dan Peternakan (DPKP) Kab. Karawang, Yayat Supriyatna mengatakan memang saat ini kondisi TPI di Kab. Karawang semakin memprihatinkan. Namun, dari data yang tunjukan, Karawang memiliki 11 TPI dengan jumlah 7200 nelayan dan 1.200 perahu penangkap ikan.

“Tentu saja hasil yang dicapai ini masih belum optimal dari potensi yang kami punya. Sedangkan untuk menghidupkan kembali TPI-TPI sebagai sarana jual beli ikan bagi nelayan tangkap, kami membuthkan anggaran yang tidak sedikti dan kesadaran nelayan,” ujarnya.

Matinya TPI ini, kata Durahim, dikarenakan prilaku nelayan yang lebih senang menjual hail tangkapan merek ke tengkulak dengan iming-iming akan diberi modal pinjaman saat nelayan sedang tidak melaut karena cuaca buruk.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab. Karawag, Agus SUndawiana menuturkan untuk menggali potensi perikanan di Kabupaten Karawang akan dibangun Minapolitan.“Langkanya nyata dari program minapolitan ini adalah membangun laboratorium budidaya ikan dan pelabuhan pemasaran ikan,” katanya.

Rencananya, kata Teddy, Laboratorium Budidaya Ikan akan ditempatkan di Kec. Cilamaya Kulon, sedangkan pelabuhan pemasaran ikan akan di bangun di Kec. Pedes. “Kami ingin merubah paradigma nelayan tangkap untuk beralih menjadi nelayan budidaya. Selain lebih menjanjikan, pasar untuk ikan budidaya lebih besar, serta tidak terpengaruh cuaca buruk,” ujarnya.

No Comments

Make A Comment

No comments yet.

Comments RSS Feed   TrackBack URL

Leave a comment

*
 
top