Dec
01

Jenazah Pilot Partogi Sianipar Dimakamkan di Karawang

Jenazah Partogi Sianipar, pilot pesawat Cessna 172 yang jatuh di Gunung Ceremai, dimakamkan di Pemakaman San Diego Hill, Karawang Barat, Kab. Karawang, Kamis (1/12).

Pemakaman jenazah diwarnai isak tangis dari keluarga dan kerabatnya. Jenazah tiba di pemkaman sekitar pukul 13.00 WIB dan langsung dilakukan prosesi pemakaman adat Batak, Sumatera Utara.

“Kami tidak menyangka sehari sebelum dia melakukan penerbangan merupakan kontak terakhir saya dengan mendiang. Kami merasa sangat kehilangan dan amat sedih ia harus mendahului kami dengan cara seperti ini,” ujar kakak kandung Partogi, Imelda Sianipar.

Imelda mengatakan adiknya merupakan sosok yang penyayang dan berpikir dewasa, serta perhatian terhadap keluarga. “Meskipun dia anak terakhir di keluarga kami, tapi pemikirannya sudah dewasa. Seharusnya dia menjadi kebanggaan di keluarga kami, namun Tuhan berkehendak lain,” katanya.

Selain sanak saudara dan kerabat, beberapa rekannya dari PT Nusa Flying International School juga tampak hadir dalam pemakaman tersebut. Mereka memberikan penghormatan terakhir dengan memberi sikap hormat layaknya petugas upacara saat jenazah Partogi masuk ke area pemakaman.

Partogi merupakan awak pesawat Cessna milik PT Nusa Flying International School yang mengalami insiden di Gunung Ciremai. Dalam peristiwa terebut, ia menjadi instruktur penerbangan.

Pesawat Cessna 172 yang diterbangkan Partogi hilang kontak pada Rabu, 17 November 2011 pukul 08.19 WIB setelah terbang dari Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur. Pesawat ditumpangi oleh pilot, Partogi Sianipar (25), serta dua siswa yaitu, M Fikriansyah (19) dan Agung Febrian (30). Ketiga jasad korban ditemukan Selasa 29 November 2011 di Gunung Ciremai, Majalengka.

Sementara itu, sang paman, Pikir Sianipar mengatakan kepergian Partogi merupakan pukulan berat bagi keluarga dan sahabat. “Ia memang sejak beradan di bangku skolah menengah sudah ingin menjadi pilot lantaran melihat kakaknya yang juga seorang pilot di Sriwijaya Air, sehingga dia termotivasi untuk menjadi pilot,” tuturnya.

Pikir mengatakan selepas tamat SMA, Partogi menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi di Universitas Bina Nusantara (Binus). Lulus dari Binus, Partogi sempat bekerja setahun di perusahaan swasta. “Merasa tidak betah kemudian ia masuk sekolah penerbangan di Nusa Flying School Halim, Jaktim,” katanya.

No Comments

Make A Comment

No comments yet.

Comments RSS Feed   TrackBack URL

Leave a comment

*
 
top