Harga Timun Anjlok, Petani Karawang Merugi
Ratusan hektare tanaman timun di dua kecamatan, yaitu Rengasdengklok dan Batujaya Kab. Karawang, terpaksa ditebang oleh petani. Pasalnya, harga timun yang anjlok membuat mereka tetap merugi jika harus meneruskan tanaman tersebut hingga panen.
“Harganya turun drastis. Kini satu kilogram timun hanya dihargai Rp 400,00. Padahal sebelumnya mencapai Rp 1.600 per kg. Harga ini merupakan harga terendah sejak tiga tahun terakhir. Daripada kami menghabisakan banyak modal untuk memelihara tanaman, lebih baik kami tebang saja,” ucap salah seorang petani timun, Hartoyo (53), Kamis (1/12).
Hartoyo mengatakan sejumlah petani yang sudah panen mengalami kerugian jutaan rupiah. Bahkan, mereka semakin sulit karena hasil panennya dibeli dengan sistem utang. “Kami geram dan kecewa, makanya petani yang masih panen satu hingga dua bulan lagi memilih menebang semua tanaman mereka,” katanya.
Hal tersebut dilakukan, kata Hartoyo, daripada menanggung kerugian yang lebih besar lagi. Pasalnya kalaupun dipanen tetap akan mengalami kerugian. “Jangankan kembali modal, buat bayar buruh petik saja bisa menombok, para petani berspekulasi dengan cara menebangnya,” tuturnya.
Lebih lanjut Hartoyo mengatakan para petani tidak tahu apa yang menyebabkan harga timun anjlok begitu drastis. Petani menduga karena faktor cuaca atau hanya permainan para tengkulak. “Padahal juga tidak sedang panen raya. Apalagi jika semua panen timun. bisa-bisa dihargai lebih rendah dari harga sekarang,” ujarnya.
Aceng, petani lainnya yang selama 10 tahun menjadi petani timun menuturkan baru kali ini mengalami harga sedemikian rendahnya. Biasanya walaupun harga turun, modal masih bisa kembali dan masih bisa membayar upah buruhnya.
“Tetapi kali ini jangankan modal buat bayar buruh panen saja sudah tekor dengan timun harga Rp 400/kg kalau Rp 1000/kg masih lumayan. Modalnya besar tapi harga panen anjlok,lebih baik di tebang saja dari pada rugi dua kali,” katanya.
Aceng mengatakan biaya yang sudah dikeluarkan setiap hektarnya mencapai 20 juta. Modal tersebut termasuk sewa, lahan, pupuk, obat, biaya olah tanah, biaya operasional panen dari beli karung, upah tanam, upah petik dan panggul,
“Kalau dipaksakan panen denga harga Rp 400/kg, kami bertambah rugi sekitar 4 juta per hektare. Saya mempunyai lahan 6 hektare, jadi total kerugian semuanya mencapai 24 juta. Tapi kalau ditebang kerugian hanya bertambah 1 juta saja,” ucapnya.
Sementara itu, salah seorang penyuluh pertanian Kecamatan Rengasdengklok Hendra Himawan mengatakan anjloknya harga timun diduga karena banyaknya timun dari luar daerah yang masuk ke Karawang
No Comments
Make A CommentNo comments yet.
Comments RSS Feed TrackBack URL
