Nov
24

Ekploitasi Karawang Selatan Kian Mengkhawatirkan

Ekplotasi penambangan batu dan kapur di Karawang Selatan yang meliputi Kecamatan Pangkalan dan Tegalwaru, kian mengkhawatirkan. Pasalnya, tidak ada tindakan dari beberapa perusahaan yang melakukan penambangan untuk melakukan rehabilitasi lingkungan.

“Bahkan ada perusahaan yang sudah habis masa kontraknya pada November 2010 masih diperbolehkan melakukan penambangan batu. Kami tidak yakin jika Pemkab Karawang tidak tahu. Artinya penambangan yang dilakukan ilegal satu tahun ini,” ucap salah seorang warga setempat, Ambar (38), Rabu (23/11).

Ambar mengatakan warga sekitar sudah berulangkali melakukan aksi untuk menentang penambangan tersebut dan melakukan aksi unjuk rasa ke Pemkab Karawang maupun ke PT Atlasindo, namun hanya mendapat janji tanpa bukti.

“Saat melakukan aksi ke Pemkab Karawang dijanjikan akan segera ditindak perusahaan yang tidak berijin dan tidak melakukan rehabilitasi lingkungan. Sedangkan, saat unjuk rasa ke perusahaan, saat itu pihak perushaan mengatakan telah melakukan proses perijinan, namun belum juga ada,” ucapnya.

Selain itu, salah seorang aktivis lingkungan, Asep Toha mengatakan keberadaan penambangan di Karawang Selatan tidak memberikan keuntungan apapun bagi warga Karawang Selatan.

“Justru dampak negatif yang kami terima dari jalan hancur sampai polusi udara dimana-mana. Belum lagi sumber air bersih yang hilang,” tuturnya.

Lebih lanjut Asep menuturkan kesepakatan untuk melakukan perbaikan jalan dan pembatasan tonase truk perusahaan-perusahaan tersebut bahkan diabaikan.

“Toh, kesepakatan yang dibuat dilanggar semua. PT Atlasindo, perusahaan penambangan tanpa ijin, truknya masih sering mondar-mandir selama 24 jam dan semakin membuat jalan warga hancur. Pemkab sampai saat ini juga tidak memberikan sanksi apapun,” katanya.

Selain itu, akibat dari eksploitasi gunung kapur di Karawang Selatan ratusan hektare sawah di Pangkalan yang mengandalkan air dari sumber air pegunungan kini semakin susah.

“Kondisinya ya mengalami kekeringan jika kamarau dan bajir jika penghujan. Dari tahun ke tahun kondisi semacam ini kian parah,” ujar Ujang Asikin (60), salah seorang petani Gunung Cintalanggeung .

Sementara itu, Asda I Pemkab Karawang, Tatang Yudianto mengatakan persoalan Karawang Selatan merupakan persoalan rumit. Bahkan, kata Tatang, ada sebagian orang yang ingin membentuk Kabupaten Karawang Selatan.

“Kami perlu mengurai satu per satu persoalan yang ada. Bagi Atlasindo, kami sudah berikan beberapa kali surat peringatan dan kini katanya sedang melakukan proses perijinan,” katanya.

Pemkab Karawang, kata Tatang, akan secepatnya melakukan koordinasi di antara dinas-dinas yang berkompeten untuk membahan penyelesaian persoalan Karawang Selatan.

Sementara itu, pemilik Atlasindo, Geral Sugito ketika akan dikonfirmasi, petugas keamanan PT Atlasindo mengatakan ia sedang tidak ada di kantor

No Comments

Make A Comment

No comments yet.

Comments RSS Feed   TrackBack URL

Leave a comment

*
 
top